Alaku
Alaku
Entertainment & SeniPendidikan Sosial BudayaTokoh/Profil

Kesenian Harus Menjadi Lokomotif Perubahan Lewat Jalanan

2
×

Kesenian Harus Menjadi Lokomotif Perubahan Lewat Jalanan

Sebarkan artikel ini

PSIKODAY – Saya lebih suka membaca apresiasi musik jalanan, sebagai bentuk ekspresi bermusik dari para musisi. Dalam konteks Indonesia para musisi itu tidaklah mudah dalam mendapatkan ruang ekonomis. Jika dibaca sebagai bentuk pengamen, sangat tidak sebanding antara biaya produksi, kemampuan dan pendapatannya.

 

Example 300x600

Para musisi yang main mempunyai talenta yang cukup bagus dengan skill individu dan kerjasamanya. Bahkan mereka mengajak penonton siapapun itu untuk ikut kolaborasi, mengajak penonton untuk ikut terlibat dalam gemuruh perasaannya didepan banyak orang.

Secara tidak langsung para musisi telah membawa pada budaya bermusik. Pola seperti ini sangat bisa merangsang siapapun untuk mencoba mengasah kemampuannya.

Jika ini bisa berjalan masif, maka mengembalikan Malang sebagai Barometer musik akan menjadi lebih mudah tercapai kedepannya. Karena mereka telah menemukan panggung yang sesungguhnya. Situasi dan kondisi seperti ini, pernah terjadi di Eropa, terutama di Inggris pada masa pertengahan 1960an.

Banyak group yang pada awal 70-an menjadi besar. Pink Floyd, Rolling Stones ,dll sering mengadakan konser musik dijalanan. Di tahun awal hingga akhir 70 -an, sangat banyak group musik yang melakukan konser dijalanan. Mulai konser di rumah kosong, halaman rumah hingga di lorong-lorong stasiun kereta api.

Seperti halnya dalam hal revolusi intelektual, juga banyak lahir dari jalanan. Salah satu yang cukup terkenal di Indonesia pada era 70-80 an adalah jalanan Malioboro yang dijadikan tempat diskusi dan apresiasi musik yang akhirnya banyak melahirkan tokoh seperti Cak Nun, Ebiet G Ade, dll.

Jalanan selalu banyak melahirkan sesuatu yang besar dalam hal apapun. Karena interaksi langsung antara para intelektual, seniman, musisi dan masyarakat. Kedekatan emosional terjadi tanpa disadari dan enerjinya mempengaruhi langsung siapapun yang hadir dalam ruang tersebut.

Jika semua seniman dan musisi tergerak masif lakukan hal seperti ini dimana saja ruang yang mereka anggap layak untuk ditempati. Maka kesenian dalam bentuk apapun akan bisa kembali menjadi lokomotif dalam pergerakan perubahan sosial, kebudayaan dan peradaban.

Dalam menyambut hari lingkungan umpamanya, musisi bisa mengadakan acara dipinggir sungai, dipinggir sawah atau dimana saja yang memang lingkungan itu harus dilestarikan keberadaannya. Sebab hanya kesenian lah yang sejatinya paling mampu merubah semangat dan pikiran masyarakat dalam situasi apapun. Baik saat nalar dan hati politik telah mati akibat mata gelap kekuasaan ataupun saat politik telah hidup dalam mengayomi kehidupan rakyatnya.

Oleh : Nashir Ngeblues

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *