Satuan Latihan (Satlat) Tarung Derajat Lanal (Pangkalan TNI AL) Yogyakarta resmi berdiri pada 21 Mei 2026 di Mako Lanal Yogyakarta, Jalan Melati Wetan, Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Kehadiran Satlat ini tidak hanya menjadi wadah pembinaan olahraga bela diri, tetapi juga ruang pembentukan karakter, mental tangguh, dan jiwa kepemimpinan bagi para anggotanya.
Tarung Derajat dikenal sebagai olahraga bela diri yang menyeimbangkan pengembangan fisik dan mental melalui lima unsur daya gerak, yaitu kekuatan, kecepatan, ketepatan, keberanian, dan keuletan. Melalui latihan yang terstruktur, peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan diri sekaligus membangun karakter yang kuat.
Salah satu pelatih Satlat Lanal Yogyakarta, Mayor Laut (KH) M. C. Bayu Murti, M.Psi., Psikolog, yang juga menjabat sebagai Kepala Tim Dinas Psikologi TNI Angkatan Laut (Dispsial) untuk Kawedanan Kaprajuritan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, menjelaskan bahwa kegiatan latihan tidak hanya difokuskan pada pencarian bibit atlet berprestasi, tetapi juga pada pengkaderan pelatih guna mendukung pengembangan organisasi secara berkelanjutan.
Program latihan dibagi ke dalam tiga kategori usia, yaitu usia dini, usia produktif atlet, dan usia kolot. Setiap kategori mendapatkan pendekatan pembinaan yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan peserta. Salah satu fokus utama pembinaan adalah penguatan motivasi intrinsik agar anggota mampu mengelola diri, menjaga disiplin, dan konsisten dalam berlatih.
Peran Tarung Derajat sebagai sarana pembentukan karakter juga sejalan dengan pandangan Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Keluarga Olahraga Tarung Derajat (KODRAT), Bambang Soesatyo. Hal tersebut disampaikan Bamsoet saat membuka Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pelajar Tarung Derajat Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia Tahun 2025 di GOR Pajajaran, Bandung, pada 5 Desember 2025. Menurutnya, Tarung Derajat memiliki posisi strategis sebagai olahraga bela diri yang mampu menempa fisik, mental, dan karakter generasi muda.
Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2024, sebanyak 38 persen remaja Indonesia berpotensi mengalami masalah perilaku sosial akibat kurangnya pendidikan karakter dan keterlibatan dalam kegiatan fisik yang terorganisasi. Sementara itu, survei Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat adanya penurunan tingkat kebugaran fisik remaja hingga 19 persen dalam tiga tahun terakhir akibat gaya hidup sedentari atau kurang aktif bergerak.
Dalam konteks tersebut, Tarung Derajat dinilai mampu menjadi salah satu solusi pembinaan generasi muda karena menanamkan nilai-nilai disiplin, keberanian yang bertanggung jawab, sportivitas, dan sopan santun.
Menurut Bambang Soesatyo, pembinaan mental dan karakter melalui olahraga bela diri merupakan kebutuhan penting bagi generasi muda saat ini. Tarung Derajat telah membuktikan dirinya sebagai olahraga yang mampu membentuk pribadi berjiwa pejuang, disiplin, kuat, dan berintegritas.
Komandan Lanal Yogyakarta, Kolonel Laut (P) Hendra Siregar, A.Md., M.Tr.Opsla., mengapresiasi dan mendukung penyelenggaraan latihan Tarung Derajat di Lanal Yogyakarta yang terbuka bagi masyarakat umum sebagai bagian dari upaya pembinaan karakter untuk meningkatkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Ia berharap, ke depan Satlat Lanal Yogyakarta dapat melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu mengharumkan nama Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat nasional.
Sebagai bagian dari upaya pembinaan tersebut, Satlat Tarung Derajat Lanal Yogyakarta menyelenggarakan latihan rutin setiap hari Kamis pukul 16.00–17.30 WIB di Mako Lanal Yogyakarta. Kegiatan ini terbuka untuk umum sebagai sarana pengembangan kemampuan bela diri sekaligus pembentukan karakter yang tangguh bagi seluruh peserta sesuai kelompok usianya.
Tarung Derajat bukan sekadar olahraga bela diri, tetapi juga sarana pendidikan karakter untuk membentuk generasi yang sehat, disiplin, berani, dan berintegritas. Melalui latihan yang berkesinambungan, nilai-nilai tersebut diharapkan dapat tertanam kuat dalam diri setiap anggota dan menjadi bekal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.














