Malang–PSIKODAY.COM| Mitos bahwa penyakit jantung hanya menyerang kelompok lanjut usia kini terpatahkan. Lonjakan kasus serangan jantung mendadak yang menyasar kelompok usia produktif menjadi sinyal bahaya serius. Menanggapi fenomena ini, BPJS Kesehatan Cabang Malang mengambil langkah agresif dengan memperkuat benteng pencegahan melalui program skrining kesehatan rutin bagi seluruh peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Langkah preventif ini diambil bukan sekadar respon atas ancaman kesehatan masyarakat, melainkan juga untuk menekan laju pembengkakan biaya medis katastropik yang kian membebani anggaran nasional setiap tahunnya.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Malang, Hernina Agustin Arifin, menegaskan pentingnya membangun kesadaran menjaga kesehatan organ vital sebelum gejala fisik muncul. Kendati JKN siap menjamin perlindungan finansial saat peserta membutuhkan tindakan medis darurat, pemeliharaan kesehatan sejak dini tetap menjadi prioritas utama.
”Langkah awal menjaga kesehatan jantung adalah dengan menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pemeriksaan medis secara berkala. Seluruh peserta JKN dapat memanfaatkan fasilitas Skrining Riwayat Kesehatan secara gratis satu kali dalam setahun,” ujar Hernina.
Prosedur deteksi dini ini dirancang praktis tanpa menyita waktu. Peserta dapat mengaksesnya secara mandiri melalui Aplikasi Mobile JKN atau layanan pesan singkat PANDAWA.
Beban Biaya Katastropik Tembus Ratusan Triliun
Secara nasional, penanganan penyakit jantung memegang rekor sebagai penyedot anggaran kesehatan terbesar dibanding penyakit berat lainnya. Kepala Humas BPJS Kesehatan, Rizzky Anugerah, membeberkan bahwa akumulasi pembiayaan penyakit jantung dari rentang tahun 2015 hingga 2025 telah menembus angka fantastis, yakni lebih dari Rp100 triliun untuk menangani sekitar 172,3 juta kasus.
Nominal tersebut melampaui pengeluaran untuk kasus gagal ginjal yang mencatatkan angka Rp83,8 triliun dan perawatan kanker senilai Rp66 triliun. Sepanjang tahun 2025 saja, BPJS Kesehatan mengalokasikan Rp50,3 triliun khusus untuk menangani penyakit katastropik, atau setara dengan 26,42 persen dari total anggaran pelayanan kesehatan nasional.
Perlindungan Nyata dan Inovasi Prolanis Muda
Pentingnya jaminan perlindungan JKN dirasakan langsung oleh Hadi Susila (61), warga Malang yang sempat mendapati penanganan medis darurat akibat serangan jantung spontan. Keberadaan kartu JKN aktif membuatnya fokus pada pemulihan tanpa perlu mencemaskan beban biaya.
“Saya tidak pernah menduga akan kena serangan jantung. Awalnya kaget dan cemas, tetapi pelayanan medis yang saya terima dengan JKN sangat baik dan seluruh biayanya ditanggung penuh,” ungkap Hadi.
Sebagai langkah konkret menekan tren penyakit berat di kalangan pekerja muda, BPJS Kesehatan meluncurkan inovasi Program Prolanis Muda. Gerakan ini dirancang khusus untuk merangkul kelompok usia produktif agar lebih konsisten menjaga pola makan, aktif bergerak, dan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini.
Masyarakat dianjurkan untuk rutin memeriksa keaktifan status kepesertaan JKN masing-masing, guna memastikan hak jaminan perlindungan medis siap digunakan kapan saja dalam kondisi darurat.














