MALANG, PSIKODAY.COM – Upaya melestarikan warisan budaya leluhur kembali digelorakan di tingkat akar rumput. Kelurahan Sukun, Kota Malang, resmi menggelar Festival Batik Sukun ke-7 dengan menempatkan anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) sebagai fokus utama edukasi seni membatik. Langkah ini diambil sebagai strategi konkret menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa di tengah kekhawatiran minimnya pengenalan batik pada generasi muda.
Lurah Sukun, Jajan Heryana, S.Sos., M.Si , menjelaskan pemilihan kelompok usia anak-anak didasarkan pada fase transisi mereka dalam mengenali identitas bangsa. Menurutnya, program edukasi ini dirancang secara berkesinambungan agar para peserta tidak sekadar melihat wujud fisik batik, melainkan benar-benar memahami esensi di baliknya.
“Kami ingin memberikan edukasi kepada adik-adik, khususnya anak-anak tingkat sekolah dasar, agar mereka memiliki pemahaman dan bisa menyampaikan kepada orang lain mengenai bentuk batik, apalagi tanggal 2 Oktober sudah jelas diperingati sebagai Hari Batik Nasional,” ungkap Jajan, Kamis (29/10/2026).
Lebih lanjut, program rintisan tingkat kelurahan ini diproyeksikan sebagai batu loncatan untuk menjaring aspirasi yang lebih luas hingga tingkat kecamatan dan Kota Malang. Sebagai bentuk pengembangan ke depan, pihak kelurahan telah merancang agenda lanjutan berupa perlombaan batik antar-sekolah dan berbasis rukun warga (RW).
Berawal dari Keprihatinan Generasi Muda
Kekhawatiran senada disampaikan oleh perintis batik Kelurahan Sukun sekaligus pemateri pelatihan, Nur Zanah atau yang akrab disapa Nena Bachtiar. Ia mengaku terdorong untuk bergerak setelah mendapati realitas di lapangan bahwa banyak anak usia sekolah yang masih asing dengan identitas budaya mereka sendiri.
“Iya, karena kita miris ya, Mas. Karena pernah kita ini berbicara dengan anak kelas 5 itu sama sekali tidak mengenal batik itu gì. Nah, itu yang menggugah kami untuk mengenalkan batik pada anak usia sedini mungkin,” tutur Nena.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia membatasi kuota peserta sebanyak 30 orang yang berasal dari lima SD di wilayah Kelurahan Sukun. Dalam sesi pelatihan, anak-anak diajak langsung mempraktikkan teknik dasar pewarnaan menggunakan motif khas Sekar Jaga Pancawarna yang dipadukan dengan ikon lokal Sukun.
Selain bernilai pelestarian budaya, kegiatan membatik ini ternyata menyimpan manfaat psikologis yang signifikan. Aktivitas menorehkan warna dan pola terbukti efektif sebagai sarana terapi tumbuh kembang anak untuk melatih konsentrasi, kesabaran, serta pengelolaan emosi di usia sekolah.
Rangkaian panjang Festival Batik Sukun ke-7 ini tidak berhenti di sini. Pihak penyelenggara memastikan perhelatan ini akan berlanjut hingga puncak acara yang dijadwalkan berlangsung pada Desember mendatang, bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ibu.














