Scroll untuk baca artikel
Alaku
Alaku
Alaku
Example 728x250
Olahraga & Kesehatan

Mengenal Preeklampsia dengan benar !

56
×

Mengenal Preeklampsia dengan benar !

Sebarkan artikel ini

 Oleh : dr. Nur Huda Satria Kusuma/ Dokter Sedekah Nurul Huda

 

Example 300x600

A. Fakta tentang Preeklampsia

Masalah kesehatan ibu dan anak merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius karena mempunyai dampak yang besar terhadap pembangunan di bidang kesehatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian ibu (AKI). Pada umumnya, penyebab dari kematian ibu merupakan kasus yang dapat dicegah. Berdasarkan data dari Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), salah satu dari tiga penyebab terbanyak kematian ibu (23,6%) adalah Preeklampsia.

Data WHO 2020, menunjukkan secara global angka kematian ibu 223 per 100.000, dengan gap yang besar antara low- income countries (430 per 100.000) dan high-income countries (12 per 100.000). Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia tahun 2020, yaitu 189 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, Thailand, dan Vietnam. Pada tahun 2022 sampai 2023, tercatat peningkatan jumlah kematian ibu dari 4.005 menjadi 4.129.  Di Jawa Timur, trend angka kematian ibu memang cenderung menurun, namun masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDG’s).

B. Tahukah Anda tentang Preeklampsia?

Mengutip dari American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) 2018, Preeklampsia merupakan kelainan dalam kehamilan yang berhubungan dengan hipertensi kasus baru yang dialami oleh ibu hamil pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu dan sering terjadi dengan dengan usia kehamilan cukup bulan. Adapun ibu hamil dikatakan menderita Preeklampsia jika didapatkan kombinasi dari kondisi berikut ini, yaitu :

Tabel 1. Kriteria Preeklampsia

KRITERIA DIAGNOSIS PREEKLAMPSIA

Hipertensi sendiri adalah tekanan darah sekurang-kurangnya 140 mmHg untuk fase sistolik atau 90 mmHg untuk fase diastolik pada dua kali pemeriksaan berjarak 15 menit menggunakan lengan yang sama.

 C. Bagaimanakah cara mengukur tekanan darah dengan benar?

Pertama, tentunya alat tensimeter yang digunakan harus telah dikalibrasi. Disarankan menggunakan tensimeter air raksa. Tensimeter digital perlu dilakukan pengecekan baterai secara berkala agar memberikan hasil yang akurat.

Kedua, ukuran manset disesuaikan dengan ukuran lengan pasien. Manset dipasang dengan gentle pada lengan, tidak longgar dan tidak terlalu kencang.

Ketiga, berdasarkan American Society of Hypertension, ibu hamil yang akan dilakukan pengukuran tekanan darah diberi kesempatan duduk tenang dalam 15 menit. Pengukuran dilakukan pada posisi duduk dan posisi manset setingkat/ setinggi dengan jantung.

Pada ibu hamil dengan riwayat hipertensi kronis, maka pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada kedua lengan. Hasil yang digunakan adalah hasil pengukuran tertinggi.

D. Apa itu Proteinuria?

Mengutip dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Proteinuria adalah suatu keadaan terdapatnya protein urin dalam jumlah yang melebihi 150 mg/hari atau pada anak-anak lebih dari 140 mg/hari. Pada kondisi preeklampsia, terdapat kadar protein di dalam urin melebihi 300mg dalam 24 jam atau pada tes urin dipstik +2. Pemeriksaan urin dipstik bukan merupakan pemeriksaan yang akurat dalam memperkirakan kadar proteinuria dikarenakan memiliki angka positif palsu yang tinggi berkisar 67-83%. Konsensus Australian Society for the Study of Hypertension in Pregnancy (ASSHP) dan panduan yang dikeluarkan oleh Royal College of Obstetrics and Gynecology (RCOG) menetapkan bahwa pemeriksaan proteinuria dipstik hanya dapat digunakan sebagai tes skrining dengan angka positif palsu yang sangat tinggi, dan harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan protein urin tampung 24 jam atau rasio protein banding kreatinin.

Ibu hamil tetap dapat dikatakan menderita preeklampsia walaupun tidak ditemukan adanya proeinuria baik dari pemeriksaan secara kuantitatif ataupun tes dipstik apabila didapatkan salah satu gejala/tanda dari gangguan sistem organ, yaitu :

  • Trombositopenia : trombosit < 100.000 / mikroliter
  • Gangguan ginjal : kreatinin serum >1,1 mg/dL atau didapatkan peningkatan kadar kreatinin serum pada kondisi dimana tidak ada kelainan ginjal lainnya
  • Gangguan liver : peningkatan konsentrasi enzim transaminase 2 kali normal dan atau adanya nyeri di daerah epigastrik / perut kanan atas
  • Edema Paru
  • Didapatkan gejala neurologis : stroke, nyeri kepala, gangguan visus
  • Gangguan pertumbuhan janin yang menjadi tanda gangguan sirkulasi uteroplasenta : Oligohidramnion, Fetal Growth Restriction (FGR) atau didapatkan adanya absent or reversed end diastolic velocity (ARDV).

E. Klasifikasi Preeklampsia

Dikutip dari American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) 2020, Preeklampsia dibagi menjadi 2, yaitu:

Tabel 2. Klasifikasi Preeklampsia

F. Apakah Preeklampsia dapat dicegah?

Mengutip dari British Medical Journal, faktanya preeklampsia dapat dicegah dengan melakukan skrining awal pada usia kehamilan < 20 minggu. Jika hasil skrining ke arah resiko rendah, maka pemeriksaan Antenatal Care (ANC) dapat dilakukan di Puskesmas, bidan, atau klinik dengan tetap waspada terhadap gejala dan tanda preeklampsia. Sedangkan jika didapatkan hasil resiko tinggi, maka pemeriksaan Antenatal Care (ANC) disarankan di Rumah Sakit dengan pemantauan ketat oleh dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Adapun ANC rutin dilakukan setiap 3 minggu pada usia kehamilan 24-32 minggu dan setiap 2 minggu pada usia kehamilan > 32 minggu.

Dari penjelasan diatas, maka sikap waspada terhadap preeklampsia menjadi sangat penting. Kesadaran ibu hamil dan dukungan dari suami serta keluarga terhadap bahaya preeklampsia bagi ibu dan bayinya menjadi modal yang baik secara psikis untuk siap menjalani prosedur pengobatan dan mencegah perburukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *