YOGYAKARTA – Kabar duka menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dua prajurit terbaik yang tergabung dalam Satgas Kontingen Garuda (Konga) dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur saat menjalankan tugas menjaga perdamaian di Lebanon Selatan.
Ucapan belasungkawa mengalir melalui berbagai platform media sosial dengan tagar #ServiceAndSacrifice. Foto kedua prajurit beredar luas, diiringi doa dan penghormatan, dengan latar bendera Merah Putih, bendera Lebanon, serta lambang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ketua AWMI, Dewanto P. Siregar, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit TNI di garis depan misi perdamaian. Ia menyebut Panglima TNI, Agus Subiyanto, telah menegaskan akan melakukan investigasi bersama PBB, memprioritaskan keamanan prajurit, serta menyiapkan langkah kontingensi.
“Panglima TNI memberikan penghormatan tertinggi kepada prajurit yang gugur dalam latihan maupun tugas operasi,” ujar Dewanto.
Sebagai bagian dari pasukan UNIFIL, prajurit TNI memiliki tugas penting, antara lain melaksanakan patroli keamanan di sepanjang Blue Line, membantu stabilitas bagi warga sipil, serta menjaga gencatan senjata demi terciptanya perdamaian jangka panjang.
“Mereka adalah pahlawan yang berjuang jauh dari tanah air demi kemanusiaan. Pengorbanan mereka akan selalu dikenang dalam sejarah diplomasi pertahanan Indonesia,” tambahnya.
Dalam insiden tersebut, salah satu prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (28), warga Ledok, Sidorejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menyampaikan bahwa dua prajurit yang gugur adalah Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Keduanya gugur saat menjalankan tugas pengawalan konvoi kendaraan UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan sebagai bagian dari East Mobile Reserve.
Peristiwa terjadi ketika Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL mengawal konvoi kendaraan di area operasi yang memiliki tingkat risiko tinggi.
Duka mendalam juga disampaikan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ia menilai gugurnya prajurit TNI merupakan bentuk pengorbanan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian global.
“Saya ikut prihatin. Dalam penugasan, risiko itu selalu ada, apalagi di daerah konflik,” ujarnya.
Meski demikian, Sultan berharap tidak ada lagi korban jiwa di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan dan Mabes TNI saat ini tengah melakukan koordinasi intensif untuk proses repatriasi jenazah ke tanah air. Para prajurit rencananya akan dimakamkan secara militer sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasa dan pengabdian mereka.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu kontributor terbesar pasukan perdamaian PBB. Kehadiran prajurit TNI dalam misi UNIFIL selama ini mendapat pengakuan dunia atas pendekatan humanis dan profesionalisme dalam berinteraksi dengan masyarakat lokal.














