PSIKODAY – Setiap manusia pasti akan mempunyai banyak keberuntungan dalam perjalanan hidupnya. Keberuntungan itu bisa dalam hal apa saja yang akan dia rasakan dalam dinamika hidupnya.
Secara umum penulis memakai istilah keberuntungan atas apa yang di alamnya sepanjang perjalanan hidupnya.
Sejak kecil penulis sering diajak kakaknya untuk ikut menghadiri majelis ilmu agama (ngaji) pada saat itu di Malang salah satu yang cukup terkenal adalah Ustadz Alwy-Tanjung, karena beliau membuka majelis rutin pengajian dirumahnya. Dihari minggu pagi sekitar pukul 5pagi, hari rabu pagi dan selasa sore.
Satu hal yang selalu ditekankan oleh kakek adalah bahwa penulis harus rajin berdo’a diawali dengan sholawat dan diakhiri dengan sholawat, diantara ucapan doa itu disuruh melafazkan basmalah sebanyak mungkin. Dan penulis menjalani semua itu dalam sepanjang perjalanan hidupnya.
Suatu saat ketika masih remaja, penulis beberapakali dikeluarkan dari sekolah hingga berpindah 3kali sekolah, dianggap nakal karena penukis cuek dengan beberapa mata pelajaran yang penukis tidak tertarik. Sejak seeingnya kemana ajah di cap sebagai anak nakal. Maka penulispun mulai rajin berdo’a dengan isi do’a yang sama selama bertahun-tahun. Semua berjalan ditengah dinamika kehidupan yang cukup dinamis dan tak jarang sangat menekan pikiran.
“Ya Allah kuatkanlah akal pikiranku, ilmuku, pengetahuanku dan berikanlah kebermanfaatan bagi orang lain”
Entah sudah berapakali do’a tersebut diucapkan berulang-ulang sejak masa remaja hingga proses menuju dewasanya. Dan pelan-pelan doa itu dikabulkan. Penulis merasa do’a itu terkabulkan karena penulis dengan sangat mudah dipertemukan dengan banyak orang yang cukup membantu dalam perjalanan dinamika mendapatkan ilmu dan pengetahuan dalam hidupnya.
Dari dipertemukan dengan mudah para tokoh politik, dunia jalanan (preman), spritual, Intelektual, pergerakan kemanusiaan, kesenian mulai tradisi, sastra, senirupa dan lain sebagainya. Dari tiap pertemuan atau interaksi tersebut ada banyak ilmu yang takkan pernah di dapatkan di bangku sekolah formal. Yaitu pengalaman interaksi dan cara berpikir dari para tokoh-tokoh sepuh yang telah sarat pengalaman hidup dan interaksi sosiialnya, baik dalam konteks politik maupun kesenian. Juga informasi penting yang tak mudah didapatkan secara umum.
Proses interaksi dan dialektika yang penulis rasakan sangat beragam dalam mendapatkan dan menyerap ilmu dari para tokoh atau siapapun yang penulis temui. Semangat belajar yang cukup menggebu dan keberuntungan yang didapat dengan mudah, menjadikan penulis merasa seolah berharga sebagai manusia.
Sejatinya bagi penulis tidak ada segala sesuatu yang berjalan begitu saja adanya. Penulis meyakini bahwa pertemuan penulis dengan berbagai kalangan dan komunitas adalah berkah dari do’a yang penulis rajin jalani dalam waktu yang cukup panjang dengan konsistensinya.
“Do’a bisa merubah takdir manusia” begitu kata Maulana Jalaludin Rumi, dan doa akan memunculkan takdir baru.
Sepanjang dari akhir 90an hingga 2010 penulis banyak dipertemukan dengan para guru yang cukup mumpuni dibidangnya. Mereka hadir dalam ruang diskusi yang penulis bikin. Tak jarang pula mereka tetiba saja hadir ke Toko Buku penulis, lalu berdiskusi. Dari situlah penulis merasakan semakin bertambahnya ilmu dan pengetahuan, berikut ragam perspektif dan keunikan cara berpikir.
Beberapakali juga penulis dipertemukan dengan pelaku spiritual (lelaku) yang tetiba saja hadir ke Toko Buku, ke rumah atau dipertemukan lewat perantara seorang teman atau siapapun itu.
Doa dan Keberuntungan akan sangat membantu dalam proses dialektika tiap manusia, karena sejatinya tidak ada yang kebetulan dalam perjalanan proses tersebut.
Akan tetapi jika semua proses yang telah kita lalui dan kita dapatkan itu dibaca sebagai kehebatan pada diri sendiri, maka kita akan menjadi sosok yang sombong, yang tak jarang akan merasa tidak ada yang lebih baik dari proses dan dirinya sendiri.
Semua orang adalah guru dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Semua orang juga bisa dibaca sebagai guru, ketika kita membaca dan mendapati kemampuan dan kelemahan mereka. Sehingga dari kelemahannya kita akan diingatkan kesadaran kita, dan dari kemampuannya kita mendapatkan kebaikan yang lebih untuk kesadaran kita sendiri.
Terimakasih kepada semua teman, sahabat, dan siapapun itu, karena semuanya telah menjadi bagian dari proses berguru penulis.
*Nashir Ngeblues*













