PSIKODAY.COM, Kota Malang – Sebagai organisasi kepemudaan, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) kota Malang khususnya, perlu memahami apa yang sedang dihadapi pelajar hari ini. Mulai dari persoalan pendidikan, kesehatan mental, perundungan, penggunaan media sosial, literasi digital, hingga tantangan dalam membangun karakter dan pergaulan yang sehat.
Dengan cara pandang tersebut, IPM diharapkan dapat bergerak melampaui aktivitas administratif. Organisasi tidak berhenti pada rapat, program kerja, dan laporan kegiatan, tetapi mampu menghadirkan gerakan yang berbasis pada potensi, kebutuhan, dan dampak.
Demikian yang disampaikan Wakil Walikota Malang, Ali Muthohirin usai menjadi nara sumber dalam Musyawarah Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah XXIV (Musyda XXIV IPM) kota Malang di gedung kesenian Gajayana kota setempat pada Sabtu (10/10).
Dari berbagai gerakan tersebut, terang Wawali Ali, di sinilah pentingnya pembumian maqashid syariah dalam gerakan pelajar. Secara sederhana, maqashid syariah dapat dipahami sebagai tujuan utama ajaran Islam untuk menghadirkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan. Nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan kader dan program organisasi.
Pria yang kerab disapa Sam Ali itu mencontohkan, misalnya melalui penguatan keimanan, peningkatan kualitas intelektual, perlindungan terhadap kesehatan dan keselamatan pelajar, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial. Dengan demikian, maqashid syariah tidak berhenti sebagai konsep yang dipelajari, tetapi hadir dalam bentuk program, karya, literasi, advokasi, dan aksi sosial.
“Nilai agama harus mampu membantu kader memahami persoalan sekaligus menentukan arah gerakan yang memberikan manfaat. Untuk itu, saya berharap, melalui kegiatan ini, para kader IPM semakin memiliki keberanian untuk menghadirkan solusi atas persoalan nyata pelajar di tingkat akar rumput,” imbuhnya.
Lebih lanjut Ali menyampaikan, jangan sampai organisasi hanya hadir dalam ruang-ruang internal, sementara persoalan pelajar di sekitar kita belum mendapatkan perhatian yang memadai. Gerakan pelajar harus hadir di sekolah, di lingkungan keluarga, di tengah masyarakat, dan di ruang digital.
Gerakan itu, terang Ali, dapat diwujudkan melalui pendampingan teman sebaya, kampanye literasi, kegiatan sosial, pengembangan bakat, advokasi pelajar, maupun karya-karya kreatif yang mendorong perubahan positif. Selain itu, pihaknya berharap musda ini hendaknya menjadi momentum untuk menyusun arah gerakan IPM yang lebih kontekstual, inklusif, dan berdampak.
“Mari kita satukan berbagai potensi kader dalam semangat “ex melting pot.” Mari kita arahkan langkah organisasi menuju masa depan melalui semangat “ad futurum.” Dan mari kita terus menempa diri agar mampu “forging beyond the optimum”; melampaui pencapaian terbaik yang telah diraih,” ajak Ali.
Dari semangat tersebut, kata dia, diharapkan akan lahir gerakan pelajar yang berakar pada budaya kota Malang, berpijak pada nilai-nilai Islam, memiliki kekuatan intelektual, serta berani menghadirkan solusi bagi persoalan pelajar.
Ali yang juga salah satu kader Muhammadiyah itu pun berharap dari musda XXIV IPM kota Malang ini dapat menghasilkan kepemimpinan, gagasan, dan program kerja yang benar-benar menjawab kebutuhan pelajar serta memberikan manfaat bagi masyarakat.(asa)














