Alaku
Alaku
Berita utama

Membangun Sawit Berkelas Dunia, Ketua SPKS Aceh Tamiang Tekankan Penguatan Petani dan Hilirisasi Industri

15
×

Membangun Sawit Berkelas Dunia, Ketua SPKS Aceh Tamiang Tekankan Penguatan Petani dan Hilirisasi Industri

Sebarkan artikel ini

ACEH TAMIANG — PSIKODAY.COM Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Aceh Tamiang, Mat Pasya, mendorong seluruh pihak untuk memperkuat pembangunan sektor kelapa sawit secara berkelanjutan dengan menempatkan petani sebagai salah satu aktor utama dalam pembangunan perkebunan sawit.

Menurut Mat Pasya, pembangunan petani sawit tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara kelembagaan petani, perusahaan perkebunan, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya agar berbagai persoalan yang selama ini masih menjadi celah dalam pengembangan perkebunan rakyat dapat diperbaiki secara bersama-sama.

Example 300x600

“Petani sawit harus dibangun bersama-sama. Celah-celah yang masih kurang harus diperbaiki melalui kolaborasi seluruh unsur, baik lembaga petani, perusahaan maupun pemerintah daerah, termasuk memanfaatkan program BPDP maupun program lainnya,” ujar Mat Pasya.

Ia menegaskan, penguatan petani tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga menyangkut pemberdayaan sumber daya manusia, Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), pembangunan sarana dan prasarana, Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB), sertifikasi ISPO dan RSPO, hingga pengembangan hilirisasi produk kelapa sawit.

Menurutnya, seluruh aspek tersebut harus berjalan secara terintegrasi agar petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai industri kelapa sawit.

Reformasi Agraria Harus Berpihak pada Petani

Mat Pasya juga menyoroti pentingnya reformasi agraria yang menurutnya harus memberikan ruang dan keberpihakan kepada petani sawit.

Ia berharap kebijakan pemerintah di bidang pertanahan dan perkebunan dapat memberikan kepastian serta kemudahan bagi petani dalam mengembangkan usaha perkebunannya secara legal, produktif, dan berkelanjutan.

Selain itu, ia meminta pemerintah daerah tidak berhenti pada penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS), tetapi juga melakukan pengawasan terhadap implementasinya di lapangan.

“Pemerintah daerah telah menetapkan harga TBS. Untuk itu harus dikontrol apakah PKS-PKS sudah menerapkan harga tersebut, sehingga pekebun tidak menjadi pihak yang dirugikan,” tegasnya.

Menurut Mat Pasya, pengawasan terhadap tata niaga TBS menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antara petani dan pabrik kelapa sawit. Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar agar keberlanjutan usaha perkebunan rakyat dapat terjaga.

Jangan Persulit Program Petani

Lebih lanjut, Mat Pasya berharap seluruh program yang berkaitan dengan kelembagaan dan pemberdayaan petani sawit dapat dipermudah dalam pelaksanaannya.

Ia mengingatkan agar tidak terjadi penambahan persyaratan atau aturan di tingkat daerah yang justru membuat program pemerintah menjadi semakin rumit.

«“Jangan ada peraturan yang dari Permentan kemudian di daerah ditambah-tambah sehingga mempersulit berjalannya program. Kondisi seperti itu dapat memperlambat realisasi dan penyerapan anggaran yang seharusnya bisa segera dirasakan manfaatnya oleh petani,” katanya.»

Menurut dia, prinsip tata kelola pemerintahan yang efektif harus diterapkan dengan tetap mengedepankan aturan, transparansi, akuntabilitas, serta kemudahan pelayanan kepada masyarakat.

Kelembagaan Petani Harus Saling Menguatkan

Mat Pasya juga mengajak seluruh lembaga petani sawit bersama para pekebun untuk terus memperkuat komunikasi dan solidaritas.

Ia menilai perbedaan pandangan dalam pelaksanaan program merupakan hal yang dapat terjadi. Namun, setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui komunikasi dan koordinasi agar tidak menghambat program yang pada akhirnya merugikan petani sendiri.

“Kalau dalam pelaksanaan kegiatan ada keterlambatan atau persoalan, mari kita koordinasikan dan cari jalan terbaik. Jangan sampai lembaga petani mudah dibenturkan satu sama lain sehingga program justru terhambat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kekuatan petani berada pada kemampuan untuk membangun kerja sama, menjaga komunikasi, serta memperjuangkan kepentingan petani melalui mekanisme kelembagaan yang konstruktif.

Ucapan Selamat kepada Kapolri

Dalam kesempatan tersebut, Mat Pasya turut menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Kapolri dan berharap kepolisian dapat menjalankan tugas dengan baik serta memberikan perhatian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk petani sawit.

Ia berharap aparat penegak hukum dapat terus mendukung terciptanya iklim usaha perkebunan yang aman, tertib, adil, dan memberikan kepastian hukum bagi seluruh pihak.

Bersama Membangun Sawit Berkelanjutan

Menutup pernyataannya, Mat Pasya mengajak seluruh elemen untuk meninggalkan pola pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri dan mulai membangun ekosistem sawit yang lebih kolaboratif.

“Mari kita sama-sama membangun sawit berkelanjutan, petani sawit makmur, dan bersama-sama berjuang membangun sebagaimana pesan yang disampaikan Menteri Pertanian beberapa waktu yang lalu,” pungkasnya.

Bagi Mat Pasya, masa depan perkebunan sawit tidak hanya ditentukan oleh besarnya produksi, tetapi juga oleh seberapa kuat petani, seberapa baik tata kelola, seberapa adil rantai perdagangan, serta seberapa serius seluruh pihak membangun keberlanjutan dari hulu hingga hilir.

Dengan kolaborasi antara petani, kelembagaan petani, pemerintah dan dunia usaha, sektor sawit diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekebun secara berkelanjutan.**( Erlina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *