Alaku
Alaku
NEWS

Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 Edukasi Masyarakat Kubu Raya Cegah Karhutla

2
×

Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 Edukasi Masyarakat Kubu Raya Cegah Karhutla

Sebarkan artikel ini

KUBU RAYA — Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup dilakukan ketika api sudah berkobar. Pencegahan sejak dini melalui peningkatan kesadaran masyarakat, deteksi titik api, pelaporan cepat, serta penanganan terpadu menjadi langkah penting untuk menekan risiko meluasnya karhutla.

Pesan tersebut menjadi bagian utama dalam kegiatan edukasi pencegahan karhutla yang melibatkan Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) Seskoal Angkatan ke-66 Tahun Anggaran 2026 di Kantor Balai Desa Teluk Kapuas, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (1/9/2026).

Example 300x600

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari keterlibatan tim gabungan yang diterjunkan Markas Besar (Mabes) TNI untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Tim gabungan dipimpin Brigjen TNI Suwadi, S.E., M.M., dengan melibatkan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66.

Edukasi kepada masyarakat dikemas secara interaktif agar pesan mengenai pencegahan karhutla tidak berhenti sebagai penyampaian informasi, tetapi dapat dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi diskusi menghadirkan Mayor Laut (KH) M. C. Bayu Murti, M.Psi., Psikolog dan Mayor Laut (K) drg. Nur Ali, Sp.BM sebagai narasumber. Keduanya membahas sejumlah aspek penting terkait karhutla, mulai dari konsep segitiga api, faktor penyebab kebakaran, dampak yang ditimbulkan, hingga langkah penanganan dan mitigasi.

Konsep segitiga api yang terdiri atas bahan bakar, sumber panas, dan oksigen menjadi salah satu materi penting yang diperkenalkan kepada masyarakat. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membantu warga mengenali faktor yang berpotensi memicu kebakaran sekaligus mengambil langkah pencegahan sebelum api muncul dan berkembang.

Karhutla tidak hanya menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas transportasi, kegiatan ekonomi, serta berbagai aktivitas sosial. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat sebagai unsur terdepan yang berada di sekitar wilayah rawan kebakaran.

Edukasi yang dilakukan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 tidak hanya berorientasi pada penyampaian pengetahuan, tetapi juga diarahkan untuk membangun perubahan perilaku masyarakat. Warga didorong untuk tidak sekadar menjadi penerima informasi, tetapi turut mengambil peran sebagai agen perubahan (agent of change) dengan menyebarluaskan pengetahuan mengenai pencegahan karhutla kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Kesadaran kolektif tersebut dinilai penting karena pencegahan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan aparat atau pemerintah. Masyarakat memiliki posisi strategis dalam mengenali potensi kebakaran sejak dini, melakukan pengawasan lingkungan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi munculnya titik api.

Melalui pola “Cegah Sebelum Terbakar, Deteksi Dini, Lapor Cepat, dan Tangani Secara Terpadu”, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi potensi karhutla.

Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Perubahan perilaku dalam pengelolaan lahan, peningkatan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, serta kesiapsiagaan menghadapi musim kering menjadi bagian penting dari upaya mitigasi.

Selain memberikan edukasi, kegiatan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 juga diisi dengan aksi sosial berupa penyaluran bantuan sosial dari Komandan Seskoal, Laksamana Muda (Laksda) TNI Ariantyo Condrowibowo.

Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian dan perhatian TNI AL terhadap masyarakat di wilayah Kubu Raya. Kehadiran kegiatan sosial tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan dan komunikasi antara prajurit TNI AL dengan masyarakat.

Bagi Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menerapkan pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh selama pendidikan dalam konteks pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi persoalan lingkungan yang membutuhkan keterlibatan lintas sektor.

Sinergi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat menjadi salah satu kunci dalam menghadapi karhutla. TNI tidak hanya berperan dalam aspek penanggulangan ketika bencana terjadi, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat sebelum bencana terjadi.

Melalui edukasi yang disertai aksi nyata tersebut, Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-66 berharap masyarakat Kubu Raya semakin memahami bahwa pencegahan karhutla merupakan tanggung jawab bersama.

Kesadaran untuk mencegah pembakaran lahan, kemampuan mengenali potensi kebakaran, keberanian melaporkan titik api sejak dini, serta kepedulian menjaga lingkungan diharapkan dapat tumbuh menjadi gerakan bersama.

Dengan demikian, upaya pencegahan karhutla tidak hanya dilakukan ketika asap mulai terlihat, tetapi dimulai jauh sebelumnya—dari kesadaran setiap individu, kepedulian masyarakat, hingga sinergi seluruh komponen bangsa dalam menjaga lingkungan dan keselamatan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *