Magelang — Peluncuran buku puisi Mata Takdir: Puisi-Puisi Cinta karya Rekki Zakkia menjadi sorotan dalam rangkaian Syawalan Seniman 2026 yang digelar pada 19 April 2026 di Kedai Kopi dan Taman Baca Kebun Makna, Magelang. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan karya sastra, tetapi juga memadukan pameran seni rupa dan refleksi spiritual dalam satu ruang perjumpaan kreatif.
Acara yang berlangsung dalam suasana Syawal ini mengusung kolaborasi lintas medium antara sastra, seni rupa, dan pertunjukan. Buku Mata Takdir sendiri lahir dari refleksi pengalaman cinta lintas bangsa yang dituangkan dalam puisi-puisi yang intens, reflektif, dan sarat nilai spiritual. Karya ini disajikan dalam format bilingual Indonesia–Inggris dengan sistem bolak-balik, memungkinkan pembaca menjangkau dua bahasa dalam satu buku.
Penerbitan buku ini didukung oleh Interlude bekerja sama dengan Yayasan Akar Makna Indonesia, dengan proses penerjemahan oleh Wahmuji serta kata pengantar dari Elizabeth D. Inandiak dan Ra Ahmadul Faqih Mahfudz.
Sebagai bagian dari peluncuran, turut digelar pameran seni rupa yang menampilkan karya ilustrasi dari sejumlah seniman, di antaranya Agus Subhan Malma, Fatoni Makturodi, Hangno Hartono, Abdul Aziz, Meuz Prast, Ali Antoni, Samuel Indratma, Hisam Al Gibran, Siddhiyaka, hingga Minji Sani. Pameran ini berlangsung selama satu bulan, mulai 19 April hingga 19 Mei 2026.
Rangkaian acara berlangsung dari sore hingga tengah malam, diisi dengan beragam pertunjukan seni. Pada sesi siang, acara dibuka dengan tarian oleh Mata Takdir Dance, dilanjutkan peluncuran buku dan pembacaan puisi oleh penulis, serta pertunjukan musik dan koreografi pencak silat. Sementara pada malam hari, kegiatan menghadirkan sambutan tokoh budaya dan keagamaan, pembacaan puisi oleh sejumlah seniman, pertunjukan musik, hingga pentas wayang dan penampilan DJ. Seluruh rangkaian kegiatan juga disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Kebun Makna.

Dalam kesempatan tersebut, ceramah budaya dan spiritual turut disampaikan oleh KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq). Ia menyoroti bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari dimensi takdir, namun manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar dan memberi makna atas setiap perjalanan hidupnya.
Menurutnya, cinta, pertemuan, dan berbagai pengalaman hidup sering kali merupakan bagian dari skenario ilahi yang tidak selalu dapat dijelaskan secara logis. Oleh karena itu, manusia perlu meresponsnya dengan kebijaksanaan, usaha, dan keikhlasan agar mampu menemukan makna yang lebih dalam dari setiap peristiwa yang dialami.
Sementara itu, dari perspektif psikologi, kegiatan ini mendapat apresiasi dari Mayor Laut (KH) M. C. Bayu Murti, M.Psi., Psikolog. Ia menilai bahwa proses kreatif dalam penulisan buku merupakan aktivitas yang melibatkan dinamika mental yang kompleks.
Menurutnya, proses menulis dimulai dari penggalian ide kreatif, penyusunan kerangka alur, hingga pengolahan pengalaman menjadi narasi yang utuh. Tahapan tersebut melibatkan berbagai fungsi kognitif seperti imajinasi, refleksi diri, serta kemampuan dalam memaknai pengalaman emosional.

“Menulis bukan sekadar aktivitas artistik, tetapi merupakan proses psikologis yang memungkinkan seseorang mengelola pengalaman batin menjadi sesuatu yang lebih terstruktur dan bermakna,” ujarnya.
Bayu yang juga dikenal sebagai penulis menambahkan bahwa praktik menulis atau journaling dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam menjaga kesehatan mental. Aktivitas ini membantu individu dalam mengelola stres, menurunkan kecemasan, serta meningkatkan kesadaran diri (self-awareness).
Dalam proses tersebut, individu juga mengalami mekanisme katarsis, yaitu pelepasan emosi yang terpendam, sehingga beban psikologis menjadi lebih ringan. Selain itu, menulis membantu integrasi antara pikiran dan perasaan, yang berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan mental secara keseluruhan.
“Karya seperti Mata Takdir tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga memiliki dimensi terapeutik. Seni dan sastra dapat menjadi media refleksi sekaligus pemulihan psikologis,” ungkapnya.
Melalui kolaborasi antara sastra, seni rupa, dan nilai spiritual yang dihadirkan dalam Syawalan Seniman 2026, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang peluncuran karya, tetapi juga ruang perjumpaan yang memperkaya pemahaman tentang cinta, takdir, dan kesehatan mental dalam kehidupan manusia modern.














